Di sebuah rumah sederhana, Ibu Muroh menjalani hari-harinya dalam keterbatasan.
Sudah bertahun-tahun, ia harus menahan rasa sakit akibat radang tulang di kakinya. Kondisi itu membuatnya tak lagi mampu berjalan seperti dulu. Untuk berpindah tempat, bahkan hanya untuk ke kamar mandi, Ibu Muroh harus mengesot perlahan di lantai—menahan nyeri yang tak pernah benar-benar hilang.

Tak ada pilihan lain.
Di usia yang tak lagi muda, Ibu Muroh hidup bersama sang ayah yang juga semakin renta. Tenaganya sudah tak sekuat dulu. Ia hanya mampu bekerja serabutan, itupun jika ada yang memanggil. Sering kali, hari-hari mereka dilewati tanpa penghasilan yang pasti.

Namun di tengah segala keterbatasan itu, Ibu Muroh tak pernah benar-benar menyerah.
Dengan kemampuan yang tersisa, ia tetap berusaha melakukan pekerjaan rumah sebisanya. Bukan karena kuat, tapi karena ia tahu… tidak ada lagi yang bisa diandalkan selain satu sama lain.
Di dalam rumah kecil itu, mereka bertahan bersama.

Di balik semua rasa sakit dan kekurangan, Ibu Muroh menyimpan sebuah harapan sederhana—ia ingin memiliki warung kecil di depan rumahnya. Sebuah usaha sederhana yang bisa ia jalankan tanpa harus berjalan jauh, tanpa harus meninggalkan rumah.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hal kecil.
Namun bagi Ibu Muroh, itu adalah harapan untuk tetap hidup dengan lebih layak.
Sayangnya, keterbatasan biaya membuat harapan itu belum juga terwujud hingga hari ini.
Sahabat, melalui kebaikan kita, harapan kecil itu bisa jadi nyata.
Mari bersama bantu Ibu Muroh memiliki warung kecilnya, agar ia bisa memiliki penghasilan sendiri dan menjalani hidup dengan lebih baik. Sedikit bantuan dari kita, bisa berarti sangat besar bagi mereka. 🤲
![]()
Menanti doa-doa orang baik