

Sekolah tertunda, karena tunggakan sekolah cucu Abah Ajid sudah berbulan-bulan belum terbayar. Sementara itu, penghasilan Abah hanya ada ketika seseorang memanggilnya bekerja sebagai kuli bangunan.

Di usia 74 tahun, Abah Ajid masih berjuang sebagai buruh harian lepas demi menafkahi istri dan cucunya yang yatim. Jika mendapat pekerjaan, ia memperoleh upah sekitar Rp70.000 sehari. Namun, ketika tidak ada panggilan, Abah pulang tanpa membawa penghasilan.
Setahun lalu, sebuah kecelakaan membuat Abah kehilangan satu kakinya. Kini, ia menggunakan kaki palsu yang diperoleh dari hasil patungan para tetangga.
Keterbatasan fisik tidak menghentikan perjuangannya. Dengan kaki palsu dan tubuh yang tak lagi muda, Abah tetap menerima pekerjaan yang datang. Baginya, selama masih mampu berdiri dan bekerja, ia ingin terus memenuhi kebutuhan keluarganya.

Namun, penghasilan yang tidak menentu belum cukup untuk menutup seluruh kebutuhan. Selain biaya hidup sehari-hari dan kebutuhan kesehatan, Abah juga harus memikirkan tunggakan sekolah cucunya yang belum terbayar selama berbulan-bulan.
Abah tidak ingin keterbatasan ekonomi menghambat pendidikan sang cucu. Namun, dengan kondisi fisik dan pekerjaan yang tidak selalu tersedia, semakin sulit baginya untuk melunasi tunggakan tersebut seorang diri.
Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk membantu melunasi tunggakan sekolah cucunya, memenuhi kebutuhan sehari-hari, membantu kebutuhan kesehatan Abah, serta memberikan modal usaha agar keluarga memiliki sumber penghasilan yang lebih stabil.
Mari ringankan perjuangan Abah Ajid agar cucunya dapat terus belajar dan keluarganya dapat menjalani kehidupan yang lebih layak. Jika belum dapat berdonasi, bantu sebarkan campaign ini agar semakin banyak orang turut membantu.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik