

Ketika penyakit lambungnya kambuh, Mak Wasti tidak kuat berdiri dan berjualan terlalu lama. Namun, bila ia berhenti berjualan, kebutuhan sehari-hari bersama cucunya akan semakin sulit dipenuhi.

Di usia yang semakin renta, Mak Wasti masih berusaha mencari penghasilan dengan menjual sayur dan kerupuk. Sayur yang dibawanya dijual seharga Rp2.000 per ikat, sedangkan kerupuk milik orang lain ia tawarkan seharga Rp1.000 per bungkus.
Kondisi tubuh yang semakin melemah membuat Mak Wasti hanya mampu berjualan sekitar tiga kali dalam seminggu. Saat sakit lambungnya kambuh, langkahnya menjadi terbatas dan ia tidak sanggup berdiri terlalu lama.

Meski demikian, Mak Wasti tetap berusaha keluar membawa dagangannya. Ia ingin memenuhi kebutuhan hidupnya bersama sang cucu tanpa hanya menunggu bantuan datang.
Perjalanan hidup Mak Wasti juga dipenuhi kehilangan. Dari tujuh anaknya, tiga telah meninggal dunia. Suaminya pun berpulang sekitar sepuluh tahun lalu karena sakit. Kini, di tengah usia senja dan kondisi kesehatan yang menurun, Mak Wasti terus bertahan demi cucu yang hidup bersamanya.
Namun, kemampuan Mak Wasti untuk berjualan sangat bergantung pada kondisi tubuhnya. Ketika penyakitnya kembali kambuh, ia berisiko kehilangan kesempatan memperoleh penghasilan, sementara kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi.
Melalui donasi ini, kita dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar Mak Wasti, mendukung biaya pemeriksaan dan pengobatan, serta meringankan beban agar ia tidak terus memaksakan tubuhnya untuk berjualan.
Mari bantu Mak Wasti menjalani masa tuanya dengan lebih layak dan tenang bersama sang cucu. Bila belum dapat berdonasi, bantu sebarkan campaign ini agar semakin banyak orang mengetahui perjuangannya.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik