Setiap hari, sebelum azan subuh berkumandang, Abah Eeng (70) sudah menapaki jalan setapak sepanjang hampir setengah jam menuju makam umum. Di sanalah istri yang ia cintai dimakamkan—pergi meninggalkan Abah di usia yang masih muda. Di sisi istrinya, dua anak Abah yang telah lebih dulu wafat juga beristirahat.

Meski tubuhnya renta, Abah tetap membersihkan makam satu per satu. Ia menyapu dedaunan, mencabut rumput liar, dan merapikan nisan agar para peziarah bisa datang dengan nyaman.
Ia bekerja bukan sekadar mencari nafkah—tapi sebagai bentuk ibadah dan cara menjaga orang-orang yang sangat ia rindukan.

Pendapatannya dari merawat makam hampir tidak seberapa—hanya cukup untuk makan sehari-hari. Selebihnya, Abah bergantung pada kebaikan tetangga yang sesekali memberinya makanan.

Di usia senjanya, Abah tinggal bersama cucunya di sebuah gubuk kecil yang sudah tidak layak huni. Atapnya bocor, dindingnya rapuh, dan malam-malam mereka kerap ditemani udara dingin tanpa perlindungan yang layak.
Namun tak pernah sekalipun Abah mengeluh.
Ia hanya berkata, “Yang penting saya bisa tetap bersihin makam. Itu ibadah saya.”
Kini, Abah Eeng membutuhkan uluran tangan kita.
Bukan hanya untuk meringankan beban hidupnya, tetapi agar ia dan cucunya bisa tinggal dengan layak, makan dengan cukup, dan menjalani hari tua tanpa harus menanggung kesulitan sendirian.
![]()
Belum ada Fundraiser