
"Aku memang tidak bisa berjalan, tapi aku tidak ingin berhenti melangkah."
Kalimat itu seakan menggambarkan kehidupan Bu Titin, seorang guru ngaji penyandang disabilitas yang sejak lahir harus hidup tanpa kaki kanan, sementara kaki kirinya mengecil dan hanya memiliki dua jari.

Sejak kecil, Bu Titin belajar menerima keadaan. Agar putrinya tidak harus mengesot ke mana-mana, sang ayah membuatkan sebuah sepeda rakitan dari besi. Sepeda sederhana itulah yang menjadi "kaki" Bu Titin selama bertahun-tahun. Karena harus mengayuh dengan satu tangan setiap hari, kini tangan kirinya menjadi lebih panjang akibat beban yang terus-menerus ia gunakan.

Namun keterbatasan fisik tak pernah menghentikan cita-citanya.
"Sebenernya jadi guru itu cita-cita aku dari kecil. Aku pengen banget jadi guru." Bu Titin
Setiap pagi, Bu Titin berkeliling dari rumah ke rumah mengajar Al-Qur'an secara privat. Perjalanan itu ia tempuh menggunakan sepeda listrik yang kini menjadi satu-satunya alat transportasinya.
Semua berawal dari mengajari keponakannya di rumah sang kakak. Suara Bu Titin yang mengajarkan ayat-ayat Al-Qur'an terdengar oleh tetangga. Mereka pun meminta anak-anaknya diajari juga. Dari satu murid, menjadi beberapa murid, hingga kini Bu Titin mengajar banyak anak dari rumah ke rumah.
"Awalnya aku nggak nyangka, dari ngajar Qur'an bisa menghasilkan uang."

Siang hari, sekitar pukul dua, Bu Titin kembali mengajar di sebuah madrasah hingga waktu Isya tiba. Dari pekerjaannya sebagai guru madrasah, ia hanya menerima honor sekitar Rp300.000 setiap bulan. Penghasilan itu tentu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Sepuluh tahun menjalani rumah tangga, ujian kembali datang. Suami tercinta yang merantau untuk bekerja meninggal dunia karena sakit. Sejak saat itu, Bu Titin harus menjalani hidup seorang diri.
Masa-masa itu menjadi titik terberat dalam hidupnya.
"Suami aku meninggal... gimana ya, cari uangnya gimana ya... harus bayar listrik, harus ini, harus itu... Tapi Allah itu Maha Adil, tak terkira beneran."
Tiga tahun lalu, kakaknya menghadiahkan sebuah sepeda listrik agar Bu Titin lebih mudah berpindah dari satu rumah murid ke rumah lainnya. Sepeda itu kini menjadi penopang utama sumber penghasilannya.
Sayangnya, sepeda listrik tersebut beberapa kali mengalami kerusakan. Ketika kendaraan itu mati, Bu Titin tak bisa mengajar. Ia kehilangan penghasilan sekaligus kebingungan mencari biaya untuk memperbaikinya.
Bagi sebagian orang, sepeda listrik hanyalah alat transportasi. Namun bagi Bu Titin, kendaraan itu adalah harapan, jalan menuju murid-muridnya, sekaligus jalan mencari nafkah.
Meski hidup penuh keterbatasan, Bu Titin tak pernah berhenti bersyukur dan terus menebarkan ilmu agama kepada anak-anak. Di balik senyumnya, tersimpan perjuangan yang luar biasa.
"Saya ingin terus mengajar selama Allah masih memberi saya kemampuan."
Mari bersama kita ringankan perjuangan Bu Titin.
InsyaAllah, donasi yang terkumpul akan digunakan untuk:
Setiap rupiah yang Anda berikan bukan hanya membantu seorang penyandang disabilitas, tetapi juga ikut menjaga agar ilmu Al-Qur'an terus sampai kepada anak-anak yang belajar bersama Bu Titin.
Disclaimer: dana yang terkumpul akan di gunakan untuk memenuhi segala kebutuhan Bu Titin Maryati diantaranya bantuan medis bila penerima manfaat medis, modal usaha dan untuk mendukung penerima manfaat lainnya di bawah naungan YAYASAN DOMPET KEBAIKAN UMAT